Call me… R.a

Penyiar…

Dari dulu (baca:kecil) waktu masih di Jakarta, memang lebih suka dengerin radio daripada mantengin TV. Dengerin radio kan bisa nyambi. Lebih suka ngoleksi kaset & CD daripada kaset video (VHF & VCD). Ampe bela-belain ga jajan 3 hari, cuma buat beli album Rick Astley “Together Forever” :-D . Masih punya tuh, kaset Pop Kreatif yang isinya lagu2 jadul Sheila Majid – Antara Anyer & Jakarta, Ruth Sahanaya – Astaga. Bandrolnya dulu masih 1.250 perak. Gila ga tuh… Dari kaset ini, aku mulai suka Utha Likumahuwa (Akira), January Christy (Yang Terjadi) dan Didi Bofa (Kesan pertama).

Back to Radio, dulu suka denger ketawa cekakak Nana Krip, Sys NS, Ulfa. Ngocol banget nih orang… Kepikiran kalau jadi penyiar radio enak kali ye… Bisa muter lagu-lagu kesukaan, jadi ga BeTe…
Pertama mulai jadi penyiar, iseng sih (yeaaaah, meskipun emang punya niat dari kecil kan?) kelas 2 SMA, ketika diharuskan mudik ke Aceh. Radio Cakradonya, masih AM, dengan format CHR. Wah, asik banget, kesampaian cita-cita : muter lagu2 kesukaan. Hehehehe…

Mulai mikir serius jadi penyiar, waktu pindah ke radio punya om, 100,9 Vina Vira, Aceh (Lhokseumawe). Ini radio besar, tapi program biasa aja. Karena itu radio om, banyak selentingan yang bilang aku aji mumpung. Kesel? ya iya lah… So, punya kesempatan libur (cuti sekolah) ke Jakarta, denger Prambors, Hard Rock, dll. Dengerin gaya siaran Indy barens, Nica Siahaan, Nugie, Mutia Kasim, semua lah. Ke Bandung juga mantengin radio2 disana. Di Bogor juga. Pokoknya noday without listening to radio. Back to Aceh, I proved it. Creating some programs yang aku kombinasiin dari beberapa radio. Ga cuma infoin lagu n penyanyi n sapa2 pendengar doang. Basi…! Pendengar kan juga butuh berita yang ga cuma tips… It works… (Thanks to Alm. Om Martin, untuk kesempatan n kepercayaannya).
Kemudian dibajak sebagai program n music director di Eramas FM, radio yang masih 1 kawasan dengan Vivi FM. Disini lebih serius, karena ownernya membebaskan untuk berkreasi. Mmmmmm… serasa punya radio sendiri… :-)

Then, I have to say Thanks to GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Karena faktor keamanan, terpaksa (atau memaksakan diri ? :-) ) aku dan keluarga moved to propinsi tetangga, North Sumatera. Eksodus, man…
Percaya dengan mitos kalau sudah jadi penyiar ga enak ga megang mic, alias ga bakal enak badan kalo ga lanjut jadi penyiar. Berawal dari nyari radio yang pas di kuping, ketemulah radio tempat ku bekerja sekarang. Secara usia dah nambah, selera juga dah bergeser… And here I am… as an announcer n producer programs.
Ga muluk-muluk, selagi suara dan style masih enak didenger kuping orang, ga kan pernah punya niat “gantung mic”. Coz Broadcating is my world…
What should I say more? :-)


2 Responses to “Call me… R.a”

  1. heeiii… lebih oke nih blognya…
    keep on the track ya ;)

  2. wah wah … si perempuan ini dah jadi prod… p kbr? ah rindunya ngantar-ngantar anak ini, serasa muda lagi wakakakkkkkk …. :D

    Rheenee said:
    “Emangnya dirimu sudah tua? Bukannya kita sebayaan? Plis deh, wan… Tulisanmu itu, membangkitkan kembali gairah menulisku. Cieeeee…”

Leave a Reply